rss
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More
twitter

Persuasi Dan Negosiasi

Dalam hidup ini, akan banyak sekali dijumpai saat-saat dimana Anda harus melakukan kegiatan persuasi (membujuk)-negosiasi (perundingan)-dan membuat deal (kesepakatan). Contohnya saja, jika Anda masih mendapat uang saku dari orang tua, Anda bisa melakukan persuasi dan negosiasi pada orang tua Anda untuk menaikkan uang saku Anda. Kemudian deal yang terjadi akan sangat tergantung dari hasil negosiasi yang dilakukan. Demikian juga dengan dunia bisnis, Anda akan banyak sekali melakukan hal serupa misalkan saja negosiasi harga dengan supplier¸membujuk pelanggan, negosiasi dengan instansi terkait, dsb. Kemampuan untuk melakukan persuasi-negosiasi-dan membuat deal sebenarnya sangat bisa dilatih. Semakin sering Anda melakukannya, semakin mahirlah Anda. Disini, Anda bisa membaca buku atau mengikuti pelatihan –pelatihan mengenai hal tersebut. Dalam kesempatan, ini saya hanya akan memberikan beberapa hal untuk Anda ingat dalam melakukan persuasi, negosiasi, dan membuat kesepakatan.

1. Itikad baik untuk mencapai win-win situation
Pastikan dalam melakukan persuasi dan negosiasi, Anda mempunyai itikad baik untuk menghasilkan suatu kesepakan yang memuaskan Anda dan pihak yang diajak bernegosiasi. Istilahnya win-win situation. Dengan itikad baik ini Anda tidak akan menawarkan hal-hal yang hanya menguntungkan diri Anda dan merugikan pihak lain. Jika ini yang terjadi, seringkali proses negosiasi akan mentok. Namun jika yang Anda tawarkan adalah win-win situation, maka besar kemungkinannya pihak yang Anda hadapi akan lebih bisa menerima dan mempertimbangkan tawaran Anda. Ingatlah, bahwa tidak ada orang di dunia ini yang mau dirugikan.

2. Percaya diri dan penuh persiapan
Sebelum Anda mulai proses persuasi dan negosiasi, persiapkan diri Anda sebaik-baiknya. Persiapkan materi yang akan Anda bicarakan dan persiapkan penampilan sesuai dengan kondisi pihak yang yang akan Anda ajak bernegosiasi. Persiapan yang matang akan menambah rasa percaya diri Anda. Bernegosiasi tanpa adanya rasa percaya diri sama dengan membiarkan

diri Anda ‘dibantai’ habis-habisan oleh lawan negosiasi Anda. Bisa saja dia akan merasa tidak percaya pada Anda atau malah dia menolak semua hal yang Anda ajukan padanya. Yang paling parah adalah jika dia justru bisa ‘menekan balik’ Anda sehingga Anda justru terpaksa menerima apapun yang dia tawarkan pada Anda meskipun kadang itu merugikan Anda. Lakukan persiapan yang cukup untuk meningkatkan rasa percaya diri supaya kejadian tersebut bisa dihindari.

3. Kemampuan Berdiplomasi
Kemampuan berdiplomasi adalah sesuatu yang harus Anda miliki sewaktu melakukan negosiasi. Kemampuan diplomasi yang baik akan membuat lawan negosiasi terkesan dan merasa nyaman bernegosiasi dengan kita. Hal-hal pokok yang terkait dengan diplomasi adalah kemampuan untuk berdiskusi secara sopan namun tetap tegas. Contoh yang paling jelas adalah ketika Anda menolak tawaran dari lawan negosiasi. Lakukan penolakan secara tegas namun tetap sopan sehingga lawan diskusi tidak tersinggung. Prinsip dasar yang harus selalu ditanamkan dalam diplomasi adalah ‘hati boleh panas, tapi kepala harus tetap dingin’. Artinya, meskipun hati mungkin terasa jengkal dan marah, namun pikiran harus tetap jernih dan fokus pada materi diskusi. Prinsip ini sangat berguna terutama ketika proses negosiasi berjalan alot dan mungkin saja terjadi ketegangan antara pihak-pihak yang bernegosiasi.

4. Profesionalisme
Ketika Anda sedang melakukan kegiatan persuasi-negoasiasi, dan membuat deal,jangan pernah meninggalkan sikap profesionalisme. Sekalipun Anda masih duduk di bangku kuliah dan belum pernah bekerja sama sekali, Anda harus tetap mengedepankan sikap profesional. Sikap profesional bisa tercermin dari hal-hal berikut ini :

- Selalu tepat waktu pada kegiatan yang telah dijanjikan (misal : menghadiri pertemuan, mengantar barang ke pelanggan, menyelesaikan pesanan pelanggan, dsb),
- Berpakaian rapi dan pantas sesuai dengan kondisi yang dihadapi,
- Menepati janji-janji yang telah diucapkan
Sikap profesional ini akan membuat pihak-pihak yang berhubungan dengan Anda menjadi lebih respek pada Anda dan bersedia menjalin atau memperpanjang hubungan kerjasama dengan Anda.

Sikap Mental Seorang Wirausahawan

Ada beberapa kondisi tertentu yang dihadapi entrepreneur/wirausahawan namun tidak dihadapi oleh mereka yang bekerja sebagai ‘orang gajian’. Kondisi-kondisi khusus ini tentu membutuhkan sikap mental tertentu pula. Sikap mental ini nantinya harus dipersiapkan oleh para calon young entrepreneur. Persiapan ini dilakukan sebelum mulai membuka usaha, dan yang lebih penting juga terus-menerus dilakukan setelah menjalani usaha tersebut. Beberapa sikap mental itu secara singkat akan diulas pada bagian berikut ini.

1. Kesiapan menghadapi ketidakpastian
Jika Anda memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur/wirausahawan Anda harus mempersiapkan mental Anda untuk menghadapi yang namanya ketidakpastian. Seorang pengusaha akan selalu berhadapan dengan ketidakpastian mengenai pemasukan usaha setiap harinya. Disini Anda sebagai calon pengusaha dituntut untuk mampu mempersiapkan mental supaya siap dengan segala ketidakpastian yang mungkin terjadi.
Tentu saja, tingkat ketidakpastian untuk masing-masing jenis usaha berbeda-beda. Misalkan saja usaha warung kelontong atau warung makan mungkin tingkat ketidakpastiannya lebih rendah daripada usaha yang sifatnya temporer atau proyek seperti event organizer, wedding organizer atau jasa desain grafis.

2. Pantang mengatakan ‘tidak bisa’
Kawan saya Rina, seorang entrepreneur, pernah mengatakan bahwa salah satu prinsip yang dianutnya dalam hal melayani pelanggan adalah pantang mengatakan ‘tidak bisa’. Yang dimaksud disini adalah, sepanjang pelanggan bersedia membayar dengan harga yang pantas maka dia akan mencarikan sekuat tenaga apa yang diinginkan oleh pelanggan. Misalkan saja, ketika pelanggan datang dan truk angkutannya sudah terpakai semua, maka dia akan menyewa truk milik orang lain supaya barang milik pelanggan ini bisa terangkut.

Dalam banyak bidang usaha lain, hal ini pun seringkali terjadi. Apalagi pada saat awal usaha Anda berdiri dengan segala keterbatasannya. Seringkali pelanggan datang untuk meminta layanan yang berada di luar kemampuan Anda saat itu. Saat itulah Anda dihadapkan dengan dilema untuk menerima atau menolak pelanggan tersebut. Jika Anda menolaknya, maka pelanggan tersebut akan pergi dan tidak akan kembali lagi karena usaha Anda dianggap tidak bonafid. Tetapi jika Anda menerimanya, maka ada kemungkinan Anda akan kesulitan memenuhi permintaannya. Disini Anda sebagai entrepreneur/wirausahawan dituntut untuk mampu berpikir cepat.

Saran saya, cobalah sekuat tenaga untuk bisa memenuhi permintaan itu apapun caranya. Jangan terburu-buru menyerah dan mengatakan tidak bisa. Jika Anda mampu memenuhi permintaan itu, besar kemungkinan pelanggan itu akan loyal pada Anda dan memberitahukan ke orang lain. Sebaliknya, jika dia merasa kecewa, maka dia bukan hanya akan meninggalkan Anda, tapi bisa juga menyebarkannya ke orang lain.

3. Sikap mental ‘tidak mau rugi’
Sebagai seorang calon entrepreneur/wirausahawan, Anda juga disarankan sedari sekarang menanamkan sikap ‘tidak mau rugi’ dalam diri Anda. Arti dari ‘tidak mau rugi ‘ disini adalah apapun yang Anda lakukan dalam bisnis harus ada nilainya bagi bisnis Anda. Nilai disini tidak harus berupa materi atau nominal uang, tapi bisa juga berwujud non-materi seperti image positif bagi bisnis Anda, awareness masyarakat akan keberadaan usaha Anda, atau peluang untuk mempromosikan jasa Anda. Sikap ini harus benar-benar tertanam (embodied) dalam diri Anda, sehingga tanpa sadar pun Anda sudah akan terlatih untuk mengkalkulasi untung-rugi tindakan-tindakan yang akan Anda lakukan.

4. Keberanian mengambil risiko
Entrepreneurship/Wirausaha erat kaitannya dengan mengambil risiko. Disini prinsip umum no risk –no gain memang sangat berlaku. Untuk itu, lebih baik Anda lihat dulu apakah Anda memang tipe orang yang berani mengambil risiko dalam bisnis. Orang yang terlalu takut dalam mengambil risiko seringkali bukan orang yang tepat untuk berbisnis. Namun ingat, orang yang bermental penjudi –mengambil risiko tanpa pertimbangan, juga sama buruknya dalam berbisnis.

Risiko yang sepatutnya diambil dalam bisnis adalah risiko yang terukur (calculated risk ) yaitu risiko yang sudah Anda perhitungkan dengan matang. Disini selain Anda dituntut mempunyai kemampuan teknis dalam memperkirakan risiko, Anda juga dituntut untuk mempunyai nyali untuk berani mengambil risiko yang telah Anda perhitungkan.

5. Kesiapan untuk bekerja lebih keras, lebih tekun, dan lebih sabar
Seringkali dalam merintis usaha baru, ketekunan dan kesabaran merupakan hal yang mutlak. Dalam usaha baru seringkali beberapa hal memang berjalan tidak sesuai dengan harapan kita. Bahkan, seringkali beberapa bidang usaha tertentu membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang ekstra besar. Saya punya kenalan yang merintis bisnis di bidang MLM. Setiap kali mengalami kesulitan, dia kapok dan pindah ke MLM lain. Begitu seterusnya. Jelas, bisnis tidak bisa dijalankan dengan cara begini. Ketidaktekunan dan ketidaksabaran dalam menjalankan bisnis tidak akan menghasilkan apa-apa.

Bekerja lebih keras juga sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam memulai usaha baru. Bahkan, bukan hanya bekerja keras, Anda juga dituntut untuk bekerja cerdas alias selalu memutar otak dalam merencanakan dan menjalankan bisnis Anda ke arah yang lebih baik. Segala aktivitas ini cukup menyita waktu. Meskipun sebagai entrepreneur, Anda mungkin cukup leluasa mengatur waktu , tapi ini bukan berarti bahwa jam kerja Anda lebih pendek lho. Malahan, seringkali dalam menjalankan aktivitas bekerja dan merencanakan bisnis ini, Anda bisa saja bekerja sampai larut malam. Biasanya jika siang hari dipergunakan untuk aktivitas yang berhubungan dengan relasi atau pelanggan, maka malam harinya biasa digunakan untuk merencanakan arah bisnis Anda ke depannya. Ibaratnya, jika ‘orang kantoran’ bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, maka Anda sebagai entrepreneur harus siap untuk bekerja 24 jam penuh.

6. Bangga akan usaha Anda
“ Ah, cuma perusahaan kecil kok..” begitu saya sering dengar dari banyak orang ketika saya menanyakan dimana mereka bekerja. Tapi jawaban itu bukan monopoli karyawan saja lho. Sering juga saya jumpai entrepreneur yang terkesan tidak percaya diri dan kurang bangga akan usahanya. Salah satu kerabat saya sendiri bahkan menyebut poultry shop yang dimilikinya sebagai ‘warung’. Tentu saja banyak orang yang jadi salah mengerti dan mengira bahwa tokonya memang hanya benar-benar berskala ‘warung’. Sikap tidak pe-de ini menurut pakar manajemen Rhenald Kasali diistilahkan dengan ‘mendiskon diri sendiri’.
Sebagai entrepreneur/wirausahawan Anda harus bisa menyeimbangkan antara tampil high-profile dan tampil low-profile. Ini berarti bahwa sesekali Anda juga harus tampil high-profile untuk meyakinkan relasi dan pelanggan Anda. Terlalu sering ‘mendiskon diri sendiri’ bisa membuat Anda kelihatan tidak percaya diri pada kemampuan Anda . Jika Anda sendiri tidak percaya pada kemampuan Anda, Anda tentu tidak bisa mengharapkan relasi dan pelanggan Anda akan percaya pada Anda, bukan?!

Penguasaan Aspek Dasar Dari Bidang Usaha

Anda pun perlu memahami beberapa aspek teknis dasar dalam membuka usaha. Pemahaman akan beberapa aspek teknis ini akan mempermudah langkah Anda dalam membuka maupun dalam menjalankan usaha tersebut. Beberapa aspek teknis yang perlu diperhatikan antara lain adalah

1. Permodalan Usaha
Permodalan memang seringkali menjadi permasalahan besar bagi mereka yang ingin membuka usaha. Apalagi bagi para calon young entrepreneur yang kebanyakan masih mempunyai dana yang pas-pasan. Yang harus diketahui disini terutama adalah kebutuhan modal secara persis
2. Aspek hukum dalam usaha
Aspek hukum dalam bisnis bisa menjadi ganjalan di kemudian hari jika kita kurang memahaminya. Untuk menghindari masalah di kemudian hari, ada baiknya Anda mempelajarinya sejak dari awal. Beberapa hal yang pokok yang sebaiknya mendapatkan perhatian khusus antara lain mengenai masalah badan hukum usaha, aspek perpajakan, masalah hak paten, merek, dan juga hak cipta.

3. Pengelolaan Keuangan Usaha
Selama Anda mempersiapkan dan membuka usaha, satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah pengelolaan keuangan yang baik. Keuangan adalah urat nadi perusahaan sehingga bila terjadi kebocoran dalam keuangan akibatnya bisa fatal. Satu hal penting yang harus selalu diingat disini adalah jangan lupa memisahkan keuangan pribadi dari keuangan usaha. Jangan lupa juga untuk menyiapkan alternatif-alternatif penyelamatan keuangan Anda jika usaha Anda mengalami kerugian.

4. Menghadapi Persaingan memperebutkan Pelanggan (termasuk marketing)
Sekali kita memutuskan untuk terjun ke dunia usaha, berarti kita harus siap untuk bersaing dengan pemain-pemain lain karena kita tidak sendirian di dunia bisnis. Persaingan ini sangat erat hubungannya dengan bagaimana memperebutkan pelanggan sebanyak-banyaknya. Memperebutkan pelanggan tidak akan lepas dari urusan pemilihan pasar usaha yang tepat, mempromosikan usaha, dan bagaimana mempertahankan pelanggan dengan cara meminimalkan keluhan mereka.

5. Perlunya mencari mentor yang kompeten
Seorang mentor yang bisa membimbing Anda dalam menjalankan usaha akan sangat bermanfat. Mentor dapat berfungsi sebagai pembimbing Anda dalam segi teknis maupun psikologis usaha. Seorang mentor yang baik dapat memberikan motivasi dan arahan yang tepat dalam bisnis Anda. Hal ini tentu saja dapat mengurangi kegamangan sekaligus meminimalkan risiko usaha Anda.

6. Evaluasi usaha
Evaluasi usaha sangat penting untuk mengetahui kondisi usaha Anda, memperbaiki aspek yang masih lemah dan menyempurnakan yang sudah baik, serta memberikan arah perkembangan usaha Anda selanjutnya. Dalam kondisi yang buruk, evaluasi bisa memberikan arah apakah Anda sebaiknya meneruskan usaha Anda atau menutup usaha Anda. Evaluasi usaha bisa dilakukan secara berkala ataupun secara insidentil jika dirasa ada masalah mendesak yangmembutuhkan evaluasi segera. Aspek yang perlu dievaluasi dalam evaluasi rutin mencakup semua aspek yang ada dalam usaha kita.antara lain kondisi keuangan usaha, efektifitas dan efisiensi usaha..

Networking Adalah Modal Dasar Seorang Wirausahawan

Seorang pengusaha jelas harus memiliki skill diatas rata-rata dalam berhubungan dengan orang lain. Kemampuan berhubungan dengan orang lain memudahkan dalam membangun relasi dengan banyak pihak atau istilahnya melakukan networking. Disini kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain jelas harus terus diperbaiki dan dikembangkan, bukannya justru dihindari.

Network atau jaringan relasi adalah modal yang paling berharga dalam merintis bisnis baru Anda. Dengan mempunyai banyak jaringan relasi, Anda bisa mendapatkan antara lain hal-hal berikut ini :
- Berita-berita atau informasi terbaru yang seringkali bisa ditangkap sebagai peluang bisnis atau sebagai alat pengamatan kondisi bisnis terbaru (termasuk mengamati kegiatan pesaing).
- Pihak-pihak yang mungkin bisa memberikan dukungan bagi bisnis Anda, misalkan permodalan,tenaga kerja, pemasaran dan distribusi, atau mungkin mentor yang bisa memberikan bimbingan untuk Anda.

LANGKAH AWAL MEMULAI NETWORKING SECARA SEDERHANA
Ada beberapa hal sederhana yang bisa Anda lakukan sedari sekarang sebagai langkah awal Anda untuk memulai networking :

1. Tumbuhkan rasa percaya diri yang kuat.
Seringkali mahasiswa atau kaum muda merasa kurang ‘pe-de’ jika harus berhadapan dengan orang yang lebih tua atau berpengalaman. Hal ini terjadi karena kadang mereka merasa lebih muda dan kurang berpengalaman. Jika Anda memang kompeten, kenapa harus minder? Tunjukkan rasa percaya diri Anda (bukan sombong lho!) dan mereka akan lebih menghargai Anda dan bersedia menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Anda.

2. Jadilah ‘anak gaul’
‘Anak gaul’ adalah potensi yang sangat baik untuk menjadi young entrepreneur. Itu sebabnya kenapa banyak entrepreneur sukses bukanlah mereka yang rajin di kelas melainkan ‘anak gaul’ yang aktif ‘kelayapan’ di luar. Tentunya ‘kelayapan’ disini adalah dalam arti yang positif, misalkan aktif di organisasi kampus atau masyarakat, magang kerja, dan lain sebagainya. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi Anda untuk menambah banyak kenalan baru yang bisa saja nantinya menjadi relasi bagi bisnis Anda Bahkan Anda yang berhobi dugem pun punya peluang yang sama untuk menjalin relasi dengan kenalan-kenalan yang Anda jumpai di saat dugem. Tentunya disini Anda harus lebih selektif dalam mengenali kawan mana yang kira-kira berpeluang untuk diajak kerjasama dalam koridor bisnis.

3. Miliki kartu nama dan berikan pada kenalan baru Anda
Kartu nama adalah sarana menjalin networking yang murah dan efektif. Kenalan baru yang menerima kartu nama Anda akan lebih mudah dalam mengingat Anda dan menghubungi Anda bila kemudian ada keperluan tertentu. Anda yang belum bekerja bisa menggunakan kartu nama pribadi atau organisasi kampus.masyarakat yang Anda ikuti. Jika organisasi Anda tidak menyediakannya, berinisiatiflah membuat sendiri. Saya melakukannya ketika saya kuliah dulu. Pastikan nama dan alamat kontak Anda tercantum jelas di kartu nama. Untuk kartu nama pribadi, pastikan minat atau keahlian khusus Anda tercantum di kartu nama. Minat atau keahlian khusus akan membuat penerima kartu nama tertarik untuk mengenal Anda lebih dekat. Jangan lupa setelah memberikan kartu nama pada seseorang, mintalah dia memberikan kartu namanya juga. Jika dia tidak mempunyai kartu nama, mintalah dia menuliskan nama, profesi, dan nomor kontaknya pada daftar kontak di agenda atau ponsel Anda.

4. Tawarkan persahabatan yang tulus
Relasi bisnis yang solid kadangkala terbentuk dari suatu persahabatan yang akrab. Untuk itu berkawanlah dengan siapa saja pandang bulu. Jangan terburu-buru untuk membicarakan masalah bisnis dengan orang baru saja Anda kenal. Bisa saja orang tersebut malah jadi berpikir bahwa Anda hanya mau ‘memanfaatkan’ dia. Tawarkan persahabatan yang tulus terlebih dahulu. Jika mereka menganggap bahwa Anda orang yang kompeten dan merupakan sahabat yang baik, maka peluang kerjasama bisnis itu akan muncul dengan sendirinya. (Sumber : Pietra Sarosa, RFA (2005) “Becoming A Young Entrepreneur.” PT. Elex Media Komputindo)

Pemilihan Bidang Usaha

Ada beberapa hal yang bisa Anda gunakan sebagai patokan awal dalam memilih suatu bidang usaha yang akan Anda tekuni dalam jangka panjang:
1. Lihat karakter usaha Anda dan sesuaikan dengan karakter pribadi Anda
Anda perlu mengenali karakter bidang usaha Anda. Tujuannya adalah untuk melihat apakah karakter dasar Anda sesuai dengan karakter usaha Anda.
2. Lihat apakah Anda menyukai usaha tersebut Merupakan syarat mutlak bahwa seseorang harus menyukai usaha yang akan digelutinya. Kenyataan menunjukkan bahwa rasa suka pada usaha akan membuat seseorang lebih giat, tekun, dan pantang menyerah dalam menjalankannya sehingga nantinya akan membuahkan hasil yang baik. Disini, memulai usaha dari hobi bisa menjadi pertimbangan Anda. Karena hobi biasanya merupakan suatu hal yang disukai, maka hobi bisa berpotensi menjadi usaha yang berhasil. Tentunya dengan berbagai tambahan analisa lainnya.
3. Lihat apakah Anda mampu menjalankan usaha tersebut Sangat penting bagi kita untuk mengukur kemampuan diri dengan tujuan untuk melihat apakah kita mampu menjalankan usaha tersebut. Kita bisa mengukur kemampuan kita dengan mengadakan beberapa analisa atau riset sederhana mengenai usaha tersebut, kemudian hasilnya dibandingkan dengan kemampuan kita. Beberapa poin dalam analisa atau riset yang bisa dijadikan ukuran kemampuan kita adalah
- Kemampuan modal usaha kita
- Kemampuan dalam hal keahlian kita
- Kemampuan kita membagi waktu (terutama bagi Anda yang masih kuliah) Kemampuan kita untuk mengimbangi dinamika dunia usaha sekaligus mengantisipasi persaingan yang ketat
- Dan lain-lain

4. Analisis risk-return dan potensi pengembangan usaha tersebut Dalam memilih bidang usaha yang Anda geluti, sudah pasti Anda harus memperhitungkan berapa pengembalian modal (return) yang akan Anda dapatkan dari usaha tersebut. Hasil perhitungan tersebut haruslah dibandingkan dengan ririko-risiko yang mungkin terjadi. Jika dari perhitungan awal saja, usaha tersebut sudah nampak tidak layak dijalankan, buat apa Anda memaksakan diri? Hal lain yang perlu dilihat adalah kemungkinan bidang usaha tersebut untuk terus berkembang baik dari segi besaran pasar maupun kemungkinan terciptanya cabang-cabang bidang usaha yang saling berkaitan. Contohnya tumbuhnya industri ponsel mendorong banyaknya toko ponsel, aksesoris ponsel, kios voucher isi ulang, download ringtone dan sebagainya. Hati-hati jika Anda memilih bidang usaha yang meskipun Anda kuasai betul, namun sudah tampak jenuh atau cenderung menyusut pasarnya. Bisa-bisa usaha Anda akan sulit berkembang nantinya.

Peranan Pendidikan Dalam Membentuk Kewirausahaan

Bagaimana peran pendidikan dalam proses pembentukan keentrepreneuran / kewirausahaan? Masih ada perdebatan mengenai masalah ini. Meskipun seorang entrepreneur belajar dari lingkungannya dalam memahami dunia entrepreneurship / wirausaha, namun ada pendapat yang menyatakan bahwa seorang entrepreneur/wirausahawan lebih memiliki streetsmart daripada booksmart. Maksudnya adalah seorang entrepreneur lebih mengutamakan untuk belajar dari pengalaman (streetsmart) dibandingkan belajar dari buku dan pendidikan formal (booksmart). Pandangan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. Jika pendapat tersebut benar maka secara tidak langsung usaha-usaha yang dilakukan untuk mendorong lahirnya jiwa ke-entrepreneur-an / kewirausahaan lewat jalur pendidikan formal pada akhirnya sukar berhasil.

Terhadap pandangan di atas, Churcill (1987) memberi sanggahan terhadap pendapat ini. Menurutnya masalah pendidikan sangatlah penting bagi keberhasilan seorang entrepreneur. Bahkan dia mengatakan bahwa kegagalan pertama bagi seorang entrepreneur adalah karena dia lebih mengandalkan pengalaman daripada pendidikan. Namun disini Churcill juga tidak menganggap remeh arti pengalaman bagi seorang entrepreneur, baginya sumber kegagalan kedua adalah jika seorang entrepreneur hanya bermodalkan pendidikan tetapi miskin pengalaman lapangan. Oleh karena itu perpaduan antara pendidikan dan pengalaman adalah faktor utama yang menentukan keberhasilan seorang entrepreneur/wirausahawan.

“…the most likely entrepreneurs to fail would be those experience but not education. The 2nd most likely entrepreneurs to fail would be those education but no experience. Conversely, those entrepreneurs who had both experience and education would be associated with the most profitable business enterprises. This makes education issues an important one…”

Menurut Eels (1984) dan Mas’oed (1984), dibandingkan dengan tenaga lain tenaga terdidik S1 memiliki potensi lebih besar untuk berhasil untuk menjadi seorang entrepreneur karena memilki kemampuan penalaran yang telah berkembang dan wawasan berpikir yang luas. Seorang sarjana juga juga memiliki dua peran pokok, pertama sebagai manajer dan kedua sebagai pencetus gagasan. Peran pertama berupa tindakan untuk menyelesaikan masalah, sehingga pengetahuan manajemen dan keteknikan yang memadai mutlak diperlukan. Peran kedua menekankan pada perlunya kemampuan merangkai alternatif-alternatif. Dalam hal ini bekal yang diperlukan berupa pengetahuan keilmuan yang lengkap.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang entrepreneur / wirausahawan yang memiliki potensi sukses adalah mereka yang mengerti kegunaan pendidikan untuk menunjang kegiatan serta mau belajar untuk meningkatkan pengetahuan. Lingkungan pendidikan dimanfaatkan oleh entrepreneur sebagai sarana mencapai tujuan. Adapun pendidikan disini berarti pemahaman suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan berpikir

Kunci Wirausaha Adalah Kreatif Dan Inovatif

Dunia usaha boleh saja berubah cepat. Sayangnya, banyak teori yang muncul, relatif tidak diperbarui. Hasilnya? Peter Dracker, pakar ekonom dan manajemen. Langsung menuding. Katanya, "Ekonomi berdasarkan manajemen telah mati !". Komentarnya ini sebagai sikapnya terhadap upaya penerapan teori yang dihasilkan dari kajian akademis seringkali terbentur berbagai variable yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya. Bagaimana Paul Ormerod? Lebih ekstrim lagi. Malah secara tegas mengemukakan pendapat yang seolah memvonis bahwa ilmu ekonomi _secara keseluruhan- telah mati.

Dracker menilai, manajemen sangat lambat menjawab perubahan yang terjadi. la melihat, pihak yang mampu menjawab perubahahn dunia usaha yang begitu cepat bukanlah manajemen, tetapi ekonomi berdasarkan kewirausahaan (entrepreneurship). ltu sebabnya Dracker maupun Paul EMrod haqul yaqin, maju mundurnya perusahaan tergantung pada kemampuan sang entrepreneur _ umumnya pendiri atau pemilik usaha- untuk mengembangkan bisnisnya. Kesimpulannya, kegagalan sang pemilik memajukan perusahaan, berakibat mandeknya perusahaan yang bersangkutan. Artinya, terdapat ketergantungan yang begitu tinggi terhadap sang entrepreneur (si empunya perusahaan/sang wira usaha)

Begitupun Prof. Alejandrino J. Ferreria dari Asean lnstitute of Management di Filipina, sami mawon. Menurutnya, superioritas usaha yang digeluti amat ditentukan oleh paradigma wirausaha itu sendiri. "Sukses yang dicapai sekarang, tidak ada artinya jika tidak diimbangi dengan perencanaan dan kemampuan melihat ke depan," ungkap Alejandrino dalam suatu lokakarya di lembaga manajemen PPM di Jakarta. Masih kata Alejandrino, setidaknya ada empat paradigma yang dapat membuat seorang wirausaha menjadi sukses atau superior di tingkat persaingan usaha yang semakin ketat.

Pertama, seorang entrepreneur/wirausahawan harus mampu memprediksi kemungkinan dimasa mendatang. Sebab, entrepreneur/wirausahawan itu harus sarat dengan ide-ide, seolah hanya melihat peluang dan kepuasan pelanggan. Sedangkan eksekutif, adalah seorang yang senantiasa menyelesaikan masalah yang timbul di perusahaan.

Paradigma kedua adalah fleksibilitas dari sang entrepreneur/wirausahawan,"Seorang entrepreneur/wirausahawan harus bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja maupun lingkungan usaha," paparnya. Nah, hal ini diyakini akan membawa perusahaan untuk terus bisa bertahan.

Ketiga, rule of the game, harus dinamis dalam mengantisipasi sebagal macam kemungkinan sebagai kemampuan mengubah aturan main. Hal ini berkaitan erat dengan inovasi atau penciptaan hal-hal baru dalam berbisnis. Perubahan sistim pembayaran tariff telepon selular dari pascabayar ke prabayar merupakan contoh nyata perubahan aturan main (rule of the games) yang sangat antisipatif. Paradigma keempat adalah kemampuan melanjutkan perubahan dari aturan atau bentuk yang telah ada sebelumnya. "lnovasi yang kita buat dalam beberapa masa ke depan akan selalu tertinggal. Kemampuan memperbaharui produk dan aturan main inilah yang dapat membuat seorang wirausaha menjadi superior, " tandas Alejandrino serius.

Tapi tunggu dulu, kenyataan lain mengungkap bahwa entrepreneural/kewirausahaan seorang entrepreneur/wirausahawan saja ternyata belum cukup. Sebab, tentu ada keterbatasan- keterbasatan sang wirausaha itu sendiri dalam menggelindingkan roda usahanya. ltu sebabnya seorang wirausaha tidak boleh pelit dalam menularkan (mentransformasikan) ilmu entrepreneurshipnya kepada individu-individu di setiap lini perusahaannya. Nah, ini yang disebut dengan intrapreneurship atau intrausaha. Sebab, pada dasarnya, intrapreneurship adalah jiwa entrepreneurship/wirausaha yang juga merupakan hal mutlak yang harus dibangkitkan pada individu-individu dalam suatu perusahaan.

Konon, intrapreneurship belakangan makin berkembang saat perusahaan pusing tujuh keliling memikirkan pesaing-pesaing barunya yang memiliki sumber daya manusia dengan tingkat entrepreneurship amat tnggi. "Timbulnya fenomena gbaru' sebperti ini, pada akhirnya memaksa perusahaan untuk mentransformasikan jiwa wirausahanya kepada individu-individu di organisasinya," kata pakar pemasaran dari Universitas lndonesia D. Rhenald Kasali. Kedepan, lanjutnya, kombinasi antara entrepreneurship dan intrapreneurship inilah yang akan menjadi kendaraan untuk mencapai tujuan secara optimal.

Jadi, ketika manajemen dianggap mati dan digantikan kewirausaha, bukan berarti manajemen tak diperlukan sama sekali. Manajemen tetap perlu, dan sebagai jawabannya ada pada intrausaha. Jadi, intrausaha merupakan kombinasi antara wirausaha dengan manajemen, karena jiwa entrepreneur juga tumbuh dari sebuah organisasi yang dijalankan dengan mengadopsi manajemen sebagai sarana mentransformasikannya. Memang, seperti kata Rhenald, entrepreneurship wajib dimiliki setiap pemimpin (leader) masa kini. Namun entrepreneurship dapat diciptakan, bukan hanya dilahirkan. Karena itu, entrepreneur adalah seorang individu yang terorganisasi dengan baik, bukan acak-acakan dan tak ter struktur.

Lantas, bagaimana MLM? Banyak menyebut, bidang usaha ini "Universitas Entrepreneur". Maklumlah, di bisnis yang memadukan selling dan sponsoring ini, setiap pelakunya diarahkan menjadi pengusaha mandiri, tanpa melihat embel- embel pendidikan maupun status sosial lainnya. Mereka terus dituntut kreatif dan inovatif dalam setiap kondisi, bangkit dari kegagalan, menciptakan downlinenya sebagai wirausaha juga. Tanpa duplikasi ini, jangan berharap seseorang menunai kesuksesan di MLM.

Mengenali Peluang Usaha

“Menumbuhkan naluri untuk mengenali peluang yang ada”

Peluang usaha sebenarnya dihasilkan dari cara pandang dan pengolahan terhadap suatu informasi yang didapat seseorang. Siapa saja bisa mendapatkan informasi, sehingga seharusnya siapa saja bisa mengenali suatu peluang. Namun, seringkali informasi yang sama disikapi secara berbeda oleh orang yang berbeda. Ada yang menganggapnya sebagai informasi yang tidak berguna, ada yang menganggapnya sebagai peluang, dan ada pula yang menganggapnya justru sebagai hal yang buruk. Disini tentu saja diperlukan ‘jam terbang’ dan ‘latihan-latihan’ untuk bisa memandang dan mengolah informasi tersebut sebagai suatu peluang. Hal-hal pokok yang harus Anda tanamkan dalam diri Anda untuk bisa mengenali peluang yang melintas didepan Anda adalah :

1. Tentukan ‘garis besar’ arah usaha atau minat Anda
Jika Anda sudah tahu bisnis apa yang Anda geluti saat ini, maka Anda akan lebih mudah untuk memproses suatu informasi menjadi sebuah petunjuk adanya peluang. Tapi jika belum, ada baiknya Anda mempunyai ‘ancar-ancar’ kira-kira kemana arah usaha atau minat Anda. Mungkin bisa dari hobby atau latar belakang keluarga atau pendidikan. Penentuan ini sangat membantu dalam memfokuskan pikiran kita dalam menyerap informasi yang ada. Misalkan saja, jika Anda mempunyai minat kearah bidang komputer, tentu saja Anda harus rajin mengamati perkembangan teknologi terbaru, kebijakan pemerintah, pengaruh dollar terhadap harga komputer,dsb.


2. Tumbuhkan kepekaan lingkungan dan amati kondisi di sekitar Anda
Jika Anda ingin menemukan banyak peluang usaha dalam hidup Anda, jangan pernah bersikap cuek –cuek saja terhadap apa yang terjadi di sekitar Anda. Amati perubahan-perubahan dan tren yang terjadi. Cobalah untuk menerka-nerka apa gerangan yang sedang terjadi dan analisalah apa dampaknya. Hal ini akan melatih kepekaan dan daya analisis Anda sehingga Anda akan lebih mudah dalam mengolah suatu informasi menjadi peluang usaha.
Istilahnya disini adalah “buka mata buka telinga “ dimanapun Anda berada dan apapun yang sedang Anda lakukan. Beberapa aktivitas yang bisa Anda lakukan untuk mencari peluang adalah:
- Traveling
- Bertemu dengan orang-orang baru
- Aktif dalam kegiatan kampus
- Belajar bahasa baru
- Membaca buku yang biasanya tidak Anda baca (selain textbook tentunya!)
- Datang ke seminar, debat, konser, acara-acara publik lainnya
- Mencoba hobby baru
- Menonton berita di TV, membaca koran dan majalah
- Mendiskusikan kejadian-kejadian atau berita dengan teman atau mentor/ dosen
- Magang

3. Terapkan manajemen informasi pada diri Anda
Manajemen informasi bisa dimulai dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari semua yang Anda baca, lihat, dengar, maupun alami sendiri..Sumber-sumber informasi antara lain buku atau artikel di media massa, seminar, training, internet, dsb. Informasi bisa juga didapat dari hasil diskusi, ngobrol santai, maupun chatting di Internet. Teman saya bahkan meluangkan waktu untuk chatting dengan orang-orang dari mancanegara seputar peluang bisnis. Kemudian, jangan pernah remehkan suatu informasi. Bisa saja informasi yang Anda anggap tidak berguna saat ini, bisa jadi berguna di masa depan. Simpan saja dulu informasi tersebut untuk suatu waktu bisa diakses kembali. Karena memori pikiran kita terbatas untuk menyimpan terlalu banyak informasi, ada baiknya Anda membackup informasi yang Anda punyai dalam bentuk catatan di agenda, komputer, atau alat penyimpan yang lain.
Setelah Anda banyak melakukan pengamatan, kemungkinan besar sekarang Anda akan mendapat banyak ide untuk bisnis Anda. Nah, Profesor Jeffry A. Timmons, pengarang buku Entrepreneurship for 21st Century memberikan 4 karakteristik untuk mengenali apakah ide Anda adalah sebuah peluang bisnis yang bisa dijalankan.
Berikut ini adalah 4 karakteristik tersebut :
1. Ide tersebut menarik bagi pelanggan
2. Ide tersebut dapat diterapkan dalam lingkungan bisnis Anda
3. Ide tersebut dapat diterapkan dalam ‘jendela peluang’ yang terbuka. ‘Jendela peluang’ disini mempunyai makna jumlah waktu yang tersedia untuk membawa ide tersebut ke pasar. Begitu competitor membawanya duluan ke pasar, maka ‘jendela peluang’ akan tertutup.
4. Anda mempunyai sumber daya dan ketrampilan untuk membuat ide Anda menjadi sebuah bisnis, atau Anda tahu seseorang yang bisa melakukannya dan mau bekerja dengan Anda,